Rancaekek — Menjaga warisan leluhur dan merawat tradisi memerlukan langkah nyata yang mendekatkan generasi muda langsung dengan sumbernya. Hal inilah yang mendasari pelaksanaan program “Bakul Budaya: Anjang Ka Sepuh” di lingkungan SMP Islam Terpadu (SMPIT) Insan Rahayu pada hari Rabu, 30 September 2026.

Kegiatan ini dirancang khusus untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap budaya, khususnya budaya Sunda, dengan belajar langsung dari para tokoh masyarakat atau “sepuh” melalui wawancara dan interaksi kebudayaan secara langsung.

Menyusuri Titik Penugasan: Dari Pesawahan hingga Saung Budaya

Aksi penjelajahan budaya ini tersebar di berbagai titik di lingkungan masyarakat sekitar SMPIT Insan Rahayu. Para murid terbagi ke dalam beberapa kelompok dan mendatangi sejumlah lokasi penting, mulai dari masjid dan mushola warga sekitar, hamparan asri area pesawahan Kampung Tanggeung, Balai Desa Sukamanah, hingga Pusat Budaya Saung Ambu Apon di Kampung Sukamanah.

Meski harus berjalan kaki cukup jauh menuju tempat kelompok masing-masing bertugas, para murid tampak menjalaninya dengan penuh semangat tanpa keluhan. Semangat petualangan ini justru menjadi bagian dari pembentukan karakter ketahanan mental dan kebersamaan.

Belajar Tatakrama, Sejarah, hingga Praktik Pelestarian Budaya

Setibanya di lokasi, para siswa diajak untuk bercengkrama hangat dengan para sesepuh setempat. Di sini, mereka belajar banyak hal mulai dari tatakrama (siliwangi/tata krama Sunda), sejarah lokal, wawasan kedaerahan, hingga mempraktikkan langsung aktivitas pelestarian budaya. Suasana keakraban terjalin erat tatkala para tokoh masyarakat dengan sabar membagikan kearifan hidup masa lampau.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada orang yang lebih tua (hurmat ka pituin), para murid menyerahkan kadeudeuh berupa paket bahan sembako. Uniknya, bingkisan tersebut dikemas secara tradisional menggunakan boboko (tempat nasi tradisional darianyaman bambu), yang sarat akan makna filosofis kesundaan.

Merajut Cinta Budaya Lewat Kekuatan Bahasa

Di tengah perbincangan hangat tersebut, terukir sebuah pesan mendalam mengenai arti penting mencintai budaya sendiri. Kecintaan pada budaya Sunda memiliki akar yang sangat kuat pada rasa kebahasaannya itu sendiri—bagaimana undak-usuk basa (tatakrama berbahasa) dan kelembutan tutur kata Sunda mampu mencerminkan karakter luhur masyarakatnya. Melalui program ini, siswa disadarkan bahwa merawat bahasa ibu adalah gerbang utama dalam menjaga marwah peradaban lokal agar tidak tergerus zaman.

Apresiasi Panitia: Kolaborasi Hangat Generasi Muda dan Sesepuh

Pihak panitia pelaksana menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas antusiasme luar biasa yang ditunjukkan oleh para murid. Perjuangan mereka melangkahkan kaki menyusuri kampung demi menimba ilmu budaya patut diacungi jempol.

Panitia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh para sepuh dan tokoh masyarakat yang telah membukakan pintu dan dengan ikhlas menerima kehadiran siswa-siswi SMPIT Insan Rahayu.

“Semoga kegiatan ini menjadi ruang belajar yang hidup bagi para murid, di mana mereka dapat meneladani langsung keteladanan, kearifan, dan keluhuran budi pekerti dari para sepuh kita,” ujar perwakilan panitia.

Melalui program “Bakul Budaya: Anjang Ka Sepuh” ini, SMPIT Insan Rahayu berharap benih-benih kecintaan terhadap identitas lokal akan terus bersemi kuat di dada setiap siswa, menjadikan mereka generasi yang berilmu, berbudaya, dan berakhlakul karimah.

Bagaimana pengalaman Anda dalam mengenalkan kearifan dan bahasa lokal kepada anak-anak di era modern saat ini?